Templates by BIGtheme NET
Terbaru
Rumah » Tak Berkategori » Muslim itu Tidak Mengada-ada dalam Agama

Muslim itu Tidak Mengada-ada dalam Agama

Muslim itu Tidak Mengada-ada dalam Agama (Oleh: Ahmad Hasan Asy’ari Ulama’i)

Muslim itu menjalankan agama sesuai ketentuan, dan menyadari bahwa agama Islam merupakan agama yang selaras dengan fitrah manusia yang tidak bertentangan dengan akal maupun hati, oleh sebab itu agama yang dituntunkan Sang Pencipta alam semesta ini tidaklah berat karena matching dengan pertumbuhan manusia itu sendiri bersama dengan alam sekitarnya, maka siapapun yang menambah-nambahkan dalam agama, sebenarnya hanya akan menambahkan beban, yang dengannnya pula menjadikan seseorang hidupnya tidak seimbang, sebagaimana isyarat hadis riwayat al- Bukhari berikut ini:

 

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله – صلى الله عليه وسلم – قال إن الدين يسر، ولن يشاد أحد الدين إلا غلبه، فسددوا وقاربوا وأبشروا واستعينوا بالغدوة والروحة وشيء من الدلجة


Dari Abu Hurairah Ra. Bahwa Rasulullah Saw bersabda: sungguh agama itu mudah, tiada seseorangpun yang terlalu memperberat (berlebihan) kecuali ia akan kualahan, karenanya berlaku luruslah kalian (sesuai aturan saja, tidak menambah atau mengurangi), kabarkan oleh kalian hal hal yang menggembirakan, serta mohonlah pertolongan (didalam ketaatan kepada Allah)  saat pagi, sore maupun petang (setiap saat).
Beragama itu sendiri merupakan aturan main bagi manusia yang hidup di dunia ini bersama kehidupan makhluk Allah lainnya, oleh sebab itu agama melingkupi tata aturan yang digariskan Allah untuk mengatur relasi manusia dengan Penciptanya, mengatur relasi manusia dengan sesame manusia, relasi manusia dengan alam baik tumbuhan binatang, air udara dan lain sebagainya.

 

Semakin tunduk kepada aturan yang Allah gariskan, maka semakin bagus keislaman seseorang, semakin enggan untuk tunduk kepada aturan tersebut semakin kufur orang tersebut. Terlebih Allah ciptakan aturan tersebut merupakan sesuatu yang dapat diterima secara alamiah baik akal, hati maupun gerak tubuh sehingga akan terasa alamiah dan cenderung ringan, sebaliknya manusia pulalah yang menambahkan aturan-aturan tersebut sehingga beragama terasa sangat sulit dan cenderung memberatkan bagi pemeluknya. Hal-hal inilah yang diingatkan Nabi Saw sebagai penyimpangan atau muhdtsat al-umur (perkara yang dibuat-buat), kemudian dikenal dengan istilah bid’ah, dan ujung-ujungnya bid’ah seperti ini justru menyesatkan.

 

Berbeda halnya dengan upaya manusia memberikan warna warni dalam aturan tersebut tanpa mengikat, sehingga bisa saja orang tidak mengikuti kembang-kembang tersebut tetapi masih menepati aturan pokoknya, maka kembang-kembang tersebut menjadi sesuatu yang indah, namun tetap tidak dipaksakan sebagai bagian dari agama maka konteks ini pulalah yang dinyatakan Umar bin Khaththab sebagai ni’mal bid’ah.

 

Ayo saudaraku, penuhi ketentuan Allah, maka hal itu tidak akan sulit, tinggalkan seuatu yang memberatkan (menambahkan sesuatu dalam aturan agama) yang justru akan membebanimu sendiri, dan boleh jadi menghantarkanmu kepada sifat mengada-ada dalam agama, namun demikian bunga-bungan aturan yang tidak menciderai aturan pokok dan sifatnya tidak mengikat bukan sesuatu yang terlarang, namun juga bukan sebuah anjuran, melainkan sebuah kenikmatan ekspresi yang hanya Allah yang paling tahu nilai akhirnya… ayo jangan hakimi orang, pelajarilah agamamu dan amalkan sesuai kemantapanmu serta hormati kemantapan pihan orang lain yang berbeda darimu.

Tentang fkptjateng