Templates by BIGtheme NET
Rumah » Tak Berkategori » Magelang Embrio Paham Radikal
Salah seorang narasumber Mas'ud Halimin saat memaparkan materi di hadapan peserta dialog.
Salah seorang narasumber Mas'ud Halimin saat memaparkan materi di hadapan peserta dialog.

Magelang Embrio Paham Radikal

Salah seorang narasumber Mas'ud Halimin saat memaparkan materi di hadapan peserta dialog.

Salah seorang narasumber Mas’ud Halimin saat memaparkan materi di hadapan peserta dialog.

MAGELANG RADARKEDU – Sebanyak 12 daerah di Indonesia dikategorikan zona merah oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Republik Indonesia. Hal itu terkait berkembangnya paham garis keras.

Antara lain, Aceh, Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, NTB, dan Bali. Termasuk, Jawa Tengah. “Dari sejumlah kasus yang terjadi, baik pelaku maupun korban berasal dari Jawa Tengah,” kata Kasubdit Kewaspadaan BNPT, Andi Intan Dulung.

Hal itu diungkapkan Intan dalam dialog pelibatan dai dalam Program Islam Damai untuk Mencegah Radikalisme dan Terorisme di Jawa Tengah. Kegiatan ini dihadiri tokoh agama dan lintas organisasi di empat kota/kabupaten di eks-karesidenan Kedu. Lokasi acara di Atria Hotel Magelang. “Kami berikan perhatian khusus di daerah-daerah itu.”

Menurut Intan, kelemahan regulasi atau undang-undang menjadi salah satu faktor masih berkembangnya terorisme di Indonesia. Setahun ini, pihaknya telah mengajukan amandemen UU terorisme ke DPR RI. “Sekarang masih proses,” jelasnya.

Intan mengaku, sesegera mungkin UU terorisme diamandemen. Salah satu poinnya, harus ada pasal pencegahan. “Misalnya, ada warga yang pergi ke daerah Timur Tengah dan diindikasi menganut paham radikalisme, bisa kita periksa.”

Selama ini, lanjut Intan, langkah itu tidak bisa diterapkan. Karena dianggap melanggar Hak Asasi Manusia (HAM). Upaya lain yang ditempuh, berdialog dengan para dai dan ulama di tingkat daerah. “Kalau selama ini dialog hanya ditingkat nasional atau provinsi, mulai tahun ini sampai ke tingkat kota dan kabupaten.”

Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah, Najahan Musyafak menambahkan, dengan menggandeng para dai, diharapkan bisa mencegah berkembangnya terorisme. Yakni, melalui syiar agama Islam yang sebenarnya. “Karena agama tidak mengajarkan kekerasan, pembunuhan dan perusakan. Sesungguhnya, Islam itu toleran.”

Dikatakan, jika dai menyampaikan pemahaman benar, maka pemahaman yang berkembang di masyarakat juga benar. Ia menegaskan, perlu upaya bersama untuk mempersempit ruang gerak berkembangnya paham-paham radikal. “Sebab di Jateng ini yang masuk zona merah cukup banyak. Ada Banjarnegara, Purbalingga, Soloraya, Banyumas, dan Magelang.”

Yang harus disadari masyarakat saat ini bahwa rekrutmen teroris masih terus berjalan. Namun, polanya berbeda. “Kalau dulu ngebom atau fisik, sekarang nonfisik seperti melalui pendidikan dan ideologi.”

Wakil Bupati Magelang HM Zaenal Arifin saat membuka acara mengakui, Magelang diidentifikasi sebagai embrio paham radikal. Namun, ia tak merinci di mana saja daerah yang dimaksud, karena masih menjadi rahasia. “Ada beberapa titik. Bukan sarang, tapi memang ada. Kegiatannya berbau terorisme dan radikalisme.” (put/isk) 

Tentang fkptjateng