Templates by BIGtheme NET
Rumah » Event » Jateng Masuk Zona Merah Terorisme
KH. Hasyim Muzadi menjadi narasumber utama dalam dialog (foto dindin)
KH. Hasyim Muzadi menjadi narasumber utama dalam dialog (foto dindin)

Jateng Masuk Zona Merah Terorisme

 

KH. Hasyim Muzadi menjadi narasumber utama dalam dialog (foto dindin)

KH. Hasyim Muzadi menjadi narasumber utama dalam dialog (foto dindin)

MAGELANG.KORANSINDO– Provinsi Jawa Tengah (Jateng) masuk dalam 12 daerah yang berkategori zona merah tindakan terorisme. Hal ini karena dari sejumlah kasus baik pelaku maupun korban berasal dari Jateng.  “Selain itu banyak organisasi yang disinyalir menganut paham garis keras berkembang di Jateng,” ujar Kepala Subdirektorat (Kasubdit) Kewaspadaan Badan Nasional Penang gu langan Terorisme (BNPT) Andi Intan Dulung saat menjadi pembicara dalam Dialog Pelibatan Dai dalam Program Islam Damai untuk Mencegah Radikalisme dan Terorisme di Jawa Tengah di Atria Hotel Magelang, kemarin.Menurut Andi Intan, selain Jateng, untuk 11 daerah yang masuk zona merah tindakan terorisme di Indonesia, meliputi Provinsi Nanggroe Aceh Da russalam, DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Provinsi Bali.
Untuk itu, BNPT membe rikan perhatian khusus pada 12 dae rah tersebut. “Kami sangat mendesak agar UU Terorisme diamandemenkan segera. Salah satu poinnya harus ada pasal pencegahan,” katanya.
Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah Najahan Musyafak mengatakan, untuk meminimalisasi tindakan terorisme perlu dilakukan dialog terutama oleh para tokoh masyarakat maupun agama.
Harapannya, tokoh tersebut bisa meredam organisasi maupun individu penganut paham garis keras untuk tidak melakukan tindakan terorisme. Pada kesempatan yang sama Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) KH Hasyim Muzadi mengatakan, ada lima faktor yang menyerang Indo nesia.
Kelima faktor tersebut antara lain narkoba, korupsi, terorisme, demoralisasi, dan perang persepsi. Menurut KH Hasyim Muzadi, saat ini sudah ada sekitar 5,6 juta orang atau sekitar 2,5% dari total warga negara Indonesia yang terkena narkoba.
“Itu sudah gawat. Narkoba adalah pembunuhan berencana, masif dan menyakitkan. Tapi di sisi lain menjanjikan keuangan. Di sini susahnya, andaikan 10% saja dari 5,6 juta orang yang tidak bisa meneruskan membeli narkoba, ya dia akan mati dengan sangat menyakitkan,” kata Hasyim Muzadi. Permasalahan kedua, yakni korupsi.
Di mana korupsi akan menghancurkan sendi ekonomi dan keadilan, bahkan seluruh martabat Indonesia. “Ketiga, terorisme. Terorisme, kalau dibanding dengan narkoba, kor bannya memang lebih sedikit. Narkoba ini, setiap hari 56 orang meninggal, sementara yang tertembak karena teror cuma berapa,” kata dia.
Persoalan lainnya yakni demoralisasi. Menurut Hasyim Mu zadi, fenomena LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender) yang dibela sebagai ilmiah dan demokrasi. “Itu kan zaman Nabi Luth juga sudah ada. Intinya untuk menghancurkan kemanusiaan,” kata man tan Ketua Umum PBNU itu. Adapun yang terakhir adalah faktor perang persepsi.
Di mana persepsi nasionalisme dihancurkan dengan berbagai macam cara. “Coba perhatikan orang-orang yang menyerang Indonesia selalu dilatih di luar negeri, di Belanda, lalu Jenewa, atau mungkin di Timur Tengah untuk radikalisme. Ini diserang kan di Indonesia pada posisi Indonesia ekonominya sangat lemah,” ujarnya (eko susanto )

 

Tentang fkptjateng