Templates by BIGtheme NET
Terbaru
Rumah » Event » Media Dituntut Mampu Membuat Berita yang Tidak Provokatif
Diskusi yang dipandu oleh Imam Wahyudi dan dihadiri oleh sejumlah jurnalis profesional  berlangsung hangat dan hidup (foto dindin)
Diskusi yang dipandu oleh Imam Wahyudi dan dihadiri oleh sejumlah jurnalis profesional berlangsung hangat dan hidup (foto dindin)

Media Dituntut Mampu Membuat Berita yang Tidak Provokatif

Diskusi yang dipandu oleh Imam Wahyudi dan dihadiri oleh sejumlah jurnalis profesional  berlangsung hangat dan hidup (foto dindin)

Diskusi yang dipandu oleh Imam Wahyudi dan dihadiri oleh sejumlah jurnalis profesional berlangsung hangat dan hidup (foto dindin)

(BeritaJateng.net)  Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) dan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jateng, menggelar diskusi terkait pedoman peliputan terorisme, Kamis (21/4). Diskusi ini dikemas dalam acara “Diseminasi Pedoman Peliputan Terorisme dan Peningkatan Profesionalisme Media Massa Pers dalam Meliput Isu-isu Terorisme”.

Bertempat di Hotel Semesta Semarang, acara ini dihadiri oleh segenap insan Pers, para wartawan dari berbagai media cetak, online maupun elektronik, Dewan Pers, PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) dan mahasiswa serta sejumlah tamu undangan lainnya.

Imam Wahyudi, selaku pemateri dari Dewan Pers dalam paparannya, mengajak kepada seluruh pekerja media, khususnya para jurnalis untuk lebih baik dalam menyajikan karya jurnalistik yang berkaitan dengan pemberitaan terorisme.

“Ada sejumlah permasalahan yang sering dijumpai dalam pemberitaan terorisme. Jangan sampai kita saat memberitakan peristiwa teror justru malah menciptakan teror. Sebuah berita harus sesuai dengan fakta, jangan kemudian muncul sebuah penafsiran,” kata Imam.

Seorang jurnalis, menurutnya harus sebisa mungkin memberikan informasi yang mendekati kebenaran. Pemberitaan di media massa ini, lanjutnya, jelas berbeda dengan informasi yang ada di media sosial.

“Harus disiplin verifikasi, itu yang terpenting. Terlebih pemberitaan tentang terorisme. Wartawan tidak menyiarkan foto atau adegan terorisme yang berpotensi menimbulkan kengerian dan pengalaman traumatik ,” tandas Imam.

Ditengah-tengah acara, Imam Wahyudi mengajak para hadirin untuk melakukan studi kasus, dengan membedah dan menganalisis sebuah pemberitaan terorisme di salah satu media yang dinilai tak sesuai dengan peraturan Dewan Pers nomor 01/Peraturan-DP/IV/2015, tentang Pedoman Peliputan Terorisme.

Diskusi dua arah ini pun semakin menarik saat pihak penyelenggara mempersilahkan kepada masing-masing perwakilan dari wartawan dan mahasiwa pers kampus untuk menyampaikan presentasi terkait hasil yang sudah dianalisis.

Sementara itu, kegiatan yang diadakan oleh BNPT dan FKPT provinsi Jateng ini mendapat apresiasi dari seluruh wartawan yang hadir. Selain untuk memberikan pemahaman pedoman peliputan kepada profesi jurnalis, kegiatan tersebut juga diharapkan dapat menjadikan Pers di Indonesia semakin maju dan berkembang. (Bjt02)

Tentang fkptjateng