Templates by BIGtheme NET
Rumah » Tak Berkategori » Jangan Selalu Kaitkan Orang Hilang dengan ISIS
Ketua FKPT Jateng Dr. Najahan Musyafak, MA.
Ketua FKPT Jateng Dr. Najahan Musyafak, MA.

Jangan Selalu Kaitkan Orang Hilang dengan ISIS

Ketua FKPT Jateng Dr. Najahan Musyafak, MA.

Ketua FKPT Jateng Dr. Najahan Musyafak, MA.

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG – ISIS sedang menjadi perbincangan hangat di masyarakat nasional hingga global. Namun, hilangnya dua PNS Purbalingga dan seorang dokter di Yogyakarta belum bisa dipastikan bergabung dengan ISIS atau organisasi terorisme lain. Hal itu dikatakan Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah, Najahan Musyafak.

Menurutnya, perbincangan hangat terkait ISIS membuat masyarakat kadang menghubungkannya secara serta merta bahwa orang hilang tersebut bergabung dengan ISIS atau organisasi teroris.

“Kita harus bijak dalam menghadapi persoalan hilangnya seseorang. Jangan serta merta menghubungkan dengan terorisme, ISIS, dan sebagainya. Kroscek pihak keluarga, RT, RW, kelurahan, hingga pihak kepolisian. Karena basis datanya di sana. Dari kroscek kemudian mendapatkan informasi secara benar berdasarkan keterangan-keterangan sumber yang valid,” ujarnya.

Meski orang hilang tersebut meninggalkan pesan yang berhubungan dengan Islam, Najahan meminta agar tidak menjustifikasi bahwa ia bergabung dengan ISIS atau organisasi terorisme lain.

“Bukan merupakan suatu hal menakut-nakuti tapi mari sikapi dan selesaikan persolannya. Banyak faktor danm persoalan berawal dari faktor agama. Bisa faktor ekonomi, pendidikan, kemiskinan, ketidakadilan, atau balas dendam. Mungkin orang itu menghilang karena ada masalah dalam rumah tangga,” ujarnya.

Bergabung dengan ISIS di Suriah, kata Najahan, memerlukan beberapa tahapan di antaranya memiliki paspor, keimigrasian, visa, uang, dan kontak seseorang yang berada di sana.

“Nah apakah orang ini sebelumnya memiliki keterkaitan dengan kelompok-kelompok yang diduga merupakan jaringan kelompokISIS atau tidak. Kalau tidak, berarti tidak ada kaitannya sama sekali ke sana. Relasi jaringan ini menjadi penting. Dan memang diakui jaringan ini ada,” ujarnya.

Najahan mengatakan keberadaan jaringan kelompok ISIS bisa dilihat melalui kejadian bebarapa penangkapan di beberapa daerah.

“Jaringan ada, tapi tidak banyak. Namun saya berharap seluruh elemen dan masyarakat harus hati-hati dengan paham ISIS yang tersebar di sosial media. Informasi itu tidak bisa diabaikan tapi juga tidak bisa dipercaya 100 persen,” ujarnya.

Kerentanan orang Jawa Tengah bergabung ISIS menurutnya masih berpotensi. Kasus penangkapan terduga teroris di Sukoharjo bisa menjadi contoh.

“Daerah Soloraya masih ada potensi. Tapi saya tegaskan kembali tiap kasus harus ditelusuri lebih detail. Satu kasus dengan kasus lain tidak bisa disamaratakan,” ujarnya.

Najahan berharap melihat persoalan secara jernih. Jangan sampai masyarakat dihantui dengan pemberitaan yang belum valid. “Jangan sampai kasus terorisme menjadi teror bagi masyarakat,” ujarnya. (*)

Tentang fkptjateng