Templates by BIGtheme NET
Rumah » Tak Berkategori » FKPT Jateng Bina Napi Teroris Bertaubat
Pembinaan yang dilakukan unsur BNPT, FKPT Jateng, MUI, Psikolog terhadap para napi teroris di LP Kedungpane, Semarang, tahun 2013. (Foto: Isdiyanto)
Pembinaan yang dilakukan unsur BNPT, FKPT Jateng, MUI, Psikolog terhadap para napi teroris di LP Kedungpane, Semarang, tahun 2013. (Foto: Isdiyanto)

FKPT Jateng Bina Napi Teroris Bertaubat

Pembinaan yang dilakukan unsur BNPT, FKPT Jateng, MUI, Psikolog terhadap para napi teroris di LP Kedungpane, Semarang, tahun 2013. (Foto: Isdiyanto)

Pembinaan yang dilakukan unsur BNPT, FKPT Jateng, MUI, Psikolog terhadap para napi teroris di LP Kedungpane, Semarang, tahun 2013. (Foto: Isdiyanto)

SEMARANG (KRjogja.com) – Forum Kordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jateng menolak munculnya penilaian yang menyatakan program deradikalisasi untuk kalangan mantan dan terpidana teroris gagal. Jika dikaitkan dengan keterlibatan Afif, mantan napi teroris yang terlibat dalam insiden ledakan bom di Thamrin, Jakarta, Kamis (14/1) lalu, itu tidak fair.

“Tindakan Afif tak bisa digeneralisasikan dan dijadikan tolok ukur untuk memvonis ketidakberhasilan program deradikalisasi yang dijalankan oleh BNPT dan FKPT se Indonesia,” tegas Ketua FKPT Jateng Dr Najahan Musyafak menjawab KRjogja.com di Semarang, Rabu (20/1/2016).
Ditegaskan Najahan, FKPT Jateng bersama BNPT sejak 2013 menjalankan deradikalisasi terhadap para napi teroris di beberapa lembaga pemasyarakatan (LP) yang menampung para napi teroris. Dalam merealisasikan program ini FKPT Jateng menjalin kerjasama dengan Kemenkumham, MUI, akademisi dan pihak pihak lain yang terkait untuk membantu membina para napi teroris untuk kembali ke jalan yang benar.
“Kegitan ini bertujuan  untuk menyapa mereka agar bertaubat, kelak setelah keluar dari LP dapat bersosialisasi dan membaur dengan lingkungan yang ada dan tak mengulangi masa lalunya,” jelasnya.
Salah satu bentuk kegiatan  pendekatan yang dilakukan FKPT Jateng, kata dosen UIN Walisongo, Semarang ini, diantaranya dengan memfasilitasi upaya-upaya pembekalan ketrampilan praktis dan kegiatan lainnya. FKPT Jateng mengajak kepada semua pihak untuk bergandengan tangan manyukseskan program ini. Yakni mengentaskan mereka dari belenggu tindak radikalisme dan terorisme.
Tentang adanya isu banyak mantan napi teroris yang akan kembali bertindak kejahatan radikalisme dan terorisme serta ada yang berencana bergabung dengan ISIS ke Suriah, menurut Najahan, hal ini tak bisa dinilai sebagai gagalnya program deradikalisasi. Apalagi, lanjutnya, program deradikalisasi belum selesai dan masih terus berjalan sehingga perlu dukungan banyak pihak.

Diakui Najahan, ada tantangan berat untuk menyukseskan program deradikalisasi ini, diantaranya terbatasnya ruang dan gerak BNPT dan FKPT terkait persoalan regulasi. Selain itu, upaya advokasi dan pendampingan terhadap mantan napi teroris tak cukup ditangani BNPT atau FKPT saja, tetapi harus dilakukan bersama sama.
Sebagai contoh yang ditangani FKPT Jateng, ada 19 napi yang hingga kini masih di LP Kedungpane, Semarang. Di luar LP ada 15 napi mantan teroris yang masih dibina. Mereka  tersebar di semarang dan Solo Raya. Mereka dibina dengan melibatkan tokoh rohani, psikiater agar mentalnya yang terlanjur radikal dapat dikembalikan menjadi lembut dan bersahaja.
“Hasilnya, alhamdulillah perilaku radikalisme yang sempat mengeras kini perlahan-lahan  mulai mencair, melunak dan bagi yang sudah selesai menjalani masa pidana sudah menjadi warga masyarakat yang baik. “Kami tetap memantau perkembangan dan perilaku mereka. Semuanya sudah membaik,” kata Najahan yang juga Wakil Ketua PWNU Jateng ini. (Isi).  

Tentang fkptjateng