Templates by BIGtheme NET
Rumah » Event » Sebanyak 950 Orang Jadi Pelaku Terorisme
Kegiatan FKPT Jateng melibatkan berbagai unsur masyarakat
Kegiatan FKPT Jateng melibatkan berbagai unsur masyarakat

Sebanyak 950 Orang Jadi Pelaku Terorisme

Kegiatan FKPT Jateng melibatkan berbagai unsur masyarakat

Kegiatan FKPT Jateng melibatkan berbagai unsur masyarakat

Semarang, nujateng.com- Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah, Najahan Musyafak, menyampaikan bahwa adanya eksistensi gerakan-gerakan radikalis dilatarbelakangi dari persoalan politik, ekonomi yang memunculkan budaya tanding. Hal ini, kata dia, secara lebih mudah terlihat dengan lunturnya identitas diri dan bergesernya nasionalisme. “Makanya, dulu target aksi terorisme adalah objek-objek vital, lalu bergeser pada polisi. Sekarang bergeser pada pola pikir,” tutur Najahan disela-sela kegiatan ‘Workshop dan Konsolidasi Yayasan Haji Muslimat NU se-Jawa Tengah’ di Auditorium Pusdiklat PMI Sambiroto, Kedungmundu, Semarang, Sabtu (21/2).

Najahan menjelaskan, perkembangan terorisme di Indonesia memang semakin besar, sehingga harus ada yang betul-betul menanggulangi secara terprogram. Bahkan Najahan mencatat, dari tahun 2000 hingga 2014 pelaku terorisme di Indonesia berjumlah 950 orang. Dia merinci, pelaku yang meninggal di tempat kejadian perkara sebesar 96 orang, pelaku bom bunuh diri 12 orang, eksekusi mati 3 orang. Adapun yang dikembalikan ke pihak keluarga 74 orang, dalam proses penyidikan 19 orang, dalam proses sidang 17 orang. “Sementara yang sudah divonis 349 orang dan yang dinyatakan bebas 380 orang,” terang pria kelahiran Magelang tersebut.

Selain itu, Dosen UIN Walisongo Semarang ini mengungkapkan bahwa perlawanan terhadap terorisme merupakan perlawanan ideologis. Karane itu, dia meminta, harus ada perumusan yang lebih strategis untuk melawan ideology yang dasarnya ingin menggantikan dasar ideologi pancasila. “Dengan adanya FKPT ini diharapkan bisa merangkul semua struktur dan elemen sosial masyarakat yang lebih luas untuk mencegah terorisme,” bebernya.

Meskipun demikian, dia mengaku proses mengubah gerakan radikal menjadi non-radikal membutuhkan waktu yang cukup panjang. Menurutnya, proses tersebut perlu dilakukan di dalam dan di luar lembaga pemasyarakatan. “Wilayah itulah yang menjadi tugas FKPT selama ini,” katanya.

Lebih jauh Wakiil Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah menambahkan, pencegahan terorisme pada upaya menghentikan situs-situs provokatif yang menyebarkan kebencian dan mengajarkan cara membuat bom. Situs bernada teror dan berisi ajakan jihad ekstrim memang kerap menjadi ancaman serius dan nyata yang harus dicari solusinya. “Ya, karena masih dapat melahirkan teroris-teroris baru,” pungkasnya. [Munif/001]

Tentang fkptjateng